Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label TUGAS ISD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS ISD. Tampilkan semua postingan

25 Des 2011

BAB 10 PRASANGKA, DISKRIMINASI, DAN ENTOSENTRISME


1. PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap  yang negatif  terhadap  sesuatu,  disebut  prasangka. Tidak sedikit  orang-orang yang  mudah  berprasangka, namun  banyak juga orang-orang yang lebih sukar  untuk berprasangka. Mengapa terjadi perbedaan  cukup  menyolok? Tampaknya kepribadian dan intelekgensia, juga faktor lingkungan cukup  berkaitan  dengan  munculnya prasangka.
Dalam  kondisi   persaingan untuk  mencapai  akumulasi materiil   tertentu, atau  untuk  meraih  status  sosial   bagi  suatu  individu   atau  kelompok   sosial tertentu,  pada suatu lingkungan/wilayah di mana norma-norma dan tata hukum dalam kondisi goyah, dapat merangsang  munculnya  prasangka dan diskriminasi dapat  dibedakan dengan jelas.  Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjuk kepada  suatu  tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap berprasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tidak dapat dipisahkan.
SEBAB –SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Berlatar  belakang sejarah.
Orang-orang kuli putih di Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang  Negro, berlatar  belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih sebagai tuan dan orang-orang Negro berstatus sebagai budak.
-          Dilatarbelakangi  oleh perkembangan  sosio - kultural  dan situasional.
Suatu prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pimpinan  Perusahaan  terhadap  karyawannya.
-          Bersumber dari faktor  kepribadian.
Keadaan frustrasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif. Para ahli beranggapan  bahwa prasangka lebih dominan disebabkan  tipe­ tiepe  kepribadian  orang-orang   tertentu.
-          Berlatar  belakang  dari perbedaan  keyakinan,  kepercayaan  dan agama.
Bisa ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi.  Prasangka  yang  berakar  dari  hal-hal  tersebut  di  atas  dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal. Beberapa diantaranya : Konflik Irlandia Utara-Irlandia Selatan, Konflik antara golonganb keturunan Yunani-Turki di Cyprus dan perang Iran-Irak berakar dari latar belakang adanya prasangka agama/kepercayaan agama.
DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI / MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Perbaikan kondisi sosial ekonomi : Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial anatar si kaya dan si miskin.
-          Perluasan kesempatan belajar : Adanya  usaha-usaha pemerintah dalam  perluasan  kesempatan belajar bagi seluruh  warganegara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka   bahwa  program   pendidikan, terutama   pendidikan   tinggi hanya  dapat   dinikmati  oleh   kalangan  ma yarakat  menengah   dan kalangan  atas.
-          Sikap terbuka dan sikap lapang : Harus selalu  kita sadari  bahwa  berbagai  tantangan  yang  datang  dari luar ataupun yang datang dari dalam negeri, semuanya akan dapat merongrong keutuhan  negara dan bangsa. Kebhinekaan masyarakat berikut sejumlah nilai yang melekat, merupakan basis empuk bagi timbulnya  prasangka, diskriminasi, dan keresahan.
2. ETNOSENTRISME
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai ­ nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan tersebut.
Suku bangsa, ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka sebagai salah ssesuatu yang prima, riil, logis, sesuai dengan kodrat alam dan sebaginya. Segala yang berbeda dengan kebudayaan yang mereka miliki, dipandang  sebagai  sesuatu  yang  kurang  baik,  kurang  estetis,  bertentangan dengan kodrat alam dan sebagainya.
Hal-hal tersebut di atas dikenal sebagai ETNOSENTRISME,  yaitu suatu kecendrungan  yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakannya sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan  lain.
Etnosentrisme  nampaknya merupakan  gejala sosial  yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar. Dengan demikian etnosentrisme merupakan kecendrungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau meni1ai kelompok lain dengan tolak ukur kebudayaannya  sendiri. Sikap etnosentrisme  dalam  tingkah  laku  berkomunikasi  nampak  canggung,  tidak luwes. Akibatnya etnosentrisme  penampilan yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalah pahaman dalam berkomunikasi. Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideologi Chauvinisme pernah dianut oleh orang­ orang Jerman pada zaman Nazi Hitler. Mereka merasa dirinya superior, lebih unggul dari bangsa-bangsa lain, dan memandang bangsa-bangsa lain sebagai inferior, lebih  rendah, nista dsb.

BAB 9 AGAMA DAN MASYARAKAT


AGAMA DAN MASYARAKAT
Kaitan  agama  dengan  masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran  akan  maut menimbulkan relegi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agamanya para  tasauf.
Membicarakan peranan  agama  dalam  kehidupan sosial  menyangkut dua hal yang sudah tentu hubungannya erat, memiliki aspek-aspek  yang terpelihara. Yaitu pengaruh dari cita-cita  agama dan etika agama dalam kehidupan  individu dari kelas sosial dan grup sosial,  perseorangan dan kolektivitas, dan mencakup kebiasaan dan cara semua  unsur asing agama  diwarnainya.
Agama sebagai suatu sistem mencakup  individu  dan masyarakat, seperti adanya emosi keagamaan, keyakinan terhadap sifat  faham, ritus, dan upacara, serta umat atau kesatuan  sosial yang terikat terhadap agamanya.
Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan   hidup,   menekankan pada hal-hal yang normatif atau menunjuk kepada  hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.
Karena latar belakang sosial yang berbeda dari masyarakat agama, maka masyarakat akan memiliki sikap dan nilai yang berbeda pula. Kebutuhan dan pandangan kelompok terhadap prinsip keagamaan berbeda-beda, kadang kala kepentingannya dapat tercermin atau tidak sama sekali. Karena itu kebhinekaan kelompok dalam masyarakat akan  mencerminkan perbedaan jenis kebutuhan keagamaan.
1.   FUNGSI AGAMA
Untuk mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan,sistem sosial, dan kepribadian. Ketiga  aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat  diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan, sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu sistem, dan sejauh manakah agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang  bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi­ sanksi sakral.
Fungsi agama di bidang sosial adalah fungsi penentu, di  mana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun  dalam  kewajiban-kewajiban sosial  yang membantu mempersatukan  mereka.
Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh  menjadi dewasa, memerlukan suatu system nilai sebagai semacam tuptunan  umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.
Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah  pada komitmen  agama. Dimensi komitmen agama, menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan  konsekuensi.
-          Dimensi   keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti   kebenaran  ajaran-ajaran agama.
-          Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk  melaksanakan komitmen agama  secara nyata.
-          Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai  perkiraan tertentu,  yaitu orang  yang benar-benar religius  pada suatu  waktu  akan  mencapai pengetahuan  yang  langsung dan  subjektif tentang  realitas  tertinggi,  mampu  berhubungan, meskipun  singkat,  dengan suatu  perantara  yang  supernatural.
-          Dimensi  pengetahuan dikaitkan  dengan perkiraan, bahwa orang-orang  yang bersikap religius  akan memiliki informasi tentang  ajaran-ajaran pokok keyakinan dan  upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.
-          Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.
2.  PELEMBAGAAN AGAMA
Agama  begitu universal, permanen (langgeng), dan mengatur dalam kehidupan, sehingga  bila tidak memahami  agama, akan sukar memahami masyarakat. Hal yang perlu dijawab  dalam  memahami  lembaga  agama adalah, apa  dan  mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya   serta  fungsi  dan struktur  agama.
Dimensi keyakinan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan dapat diterima sebagai dalil atau dasar analitis, namun hubungan-hubungan antara keempatnya tidak dapat diungkapkan tanpa  data  empiris.
Agama  melalui  wahyunya atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia guna  memenuhi kebutuhan mendasar,  yaitu selamat di dunia dan selamat di akhirat, di dalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai. Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan  yang memberikan  rasa aman bagi pemeluknya.
Pengalaman tokoh agama dan juga merupakan pengalaman kharismatik, akan melahirkan suatu bentuk perkumpulan keagamaan, yang kemudian menjadi organisasi keagamaan terlembaga. Lembaga – lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan - keyakinan. dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Misalnya pada kewajiban  ibadah haji dan munculnya organisasi keagamaan.
Organisasii keagamaan yang tumbuh secara khusus semula dari pengalaman agama tokoh  kharismatik pendiri  organisasi, kemudian menjadi  organisasi keagamaan yang terlembaga. Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial Islam yang penting, dipelopori oleh pribadi Kiai Haji ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad  Abduh   dari Tafsir Al-Manar.
Demikian  pula  Nadlatul  Ulama (NU), yang artinya "kebangkitan ulama", menekankan keterikatan pada mazhab Sjafii, dan mengimbangi golongan pembaharu. Semula organisasi ini tidak  mempunyai  anggaran  dasar  (tahun  1926),  baru  setelah  tahun 1927 organisasi ini dirumuskan. Kegiatannya, selain tertib beragama, juga memperbaiki  kehidupan  sosial  masyarakat.
Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya "perubahan batin" atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan.