Total Tayangan Halaman

29 Des 2011

Hidup Ini Indah


Hidup Ini Indah
Oleh : Billy Boen
Setelah trilogy tulisan saya yang fokus ke penjabaran tentang kehidupan dari sudut pandang sebagian besar yang bilang “Hidup Ini SUSAH”, saatnya untuk membawa sudut pandang lain ke permukaan…

Seperti yang saya bilang sebelumnya, orang yang bilang hidup ini susah, biasanya adalah mereka yang belum sukses. Mereka cenderung menyalahkan keberuntungan dan kesempatan yang belum datang ke dalam kehidupan mereka.

Nah, sebaliknya, yang bilang hidup ini indah, pada umumnya adalah mereka yang sudah dapat menikmati arti sebuah kesuksesan. Ingat, sukses itu tidak semata dihitung hanya dari segi materi. Memang, di hampir setiap kesempatan, saya berusaha untuk menginspirasi Agan semua untuk bisa sukses di karir; secara finansial. Kenapa? Kalau Agan sukses di karir, dan secara finansial berlebih, Agan akan bisa membantu lebih banyak orang lagi yang membutuhkan pertolongan Agan. Pada saatnya nanti, Agan udah ngga perlu lagi mikirin untuk cari duit, tapi bisa mikirin dan dedikasikan waktu Agan untuk berbuat sosial. Ini yang saya sebut "Kaya raya untuk orang lain." Tapi,...

Menurut saya, janganlah Agan hanya mencari kekayaan semata. Untuk menjadi individu yang kaya raya dengan cara-cara berintegritas tinggi itu baik. Tapi, lebih baik lagi kalau Agan bisa hidup di dalam keseimbangan, “Balanced Life”. Apa itu?

Dari waktu ke waktu saya selalu berusaha mengingatkan teman-teman twitter saya @BillyBoen, bahwa "Balanced Life = God, Great Health, Loving Family, Successful Career, Lots of Friends, Lots of Fun!"

Pertanyaan “Apakah Anda sudah sukses?”, sering ditanyakan ke saya di seminar maupun workshop yang saya bawakan. Jawaban saya: “Belum.”

Berarti, saya termasuk orang yang berpikir bahwa hidup ini susah? Tidak! Menurut saya, hidup ini indah! Bingung?

Begini,... Agan harus tau dulu apa arti sukses menurut Agan. Menurut saya:
- Setiap individu punya arti sukses yang berbeda-beda
- Setiap individu harus memiliki arti sukses lebih dari satu. Banyak kalau perlu!
- Secara umum, sukses itu adalah ketika Agan berhasil mencapai apa yang Agan targetkan, cita-citakan di awal <- Contoh: Agan ingin kuliah. Ketika Agan lulus kuliah, Agan sudah sukses (untuk target tersebut). Contoh: Agan ingin menulis buku. Ketika buku Agan terbit, Agan sukses (untuk target tersebut)
- Arti sukses itu harus berkembang dari waktu ke waktu <- Ketika lulus kuliah, Agan harus punya target yang lebih besar lagi (menjadi CEO?); dalam konteks ini, Agan kembali menjadi belum sukses. Contoh: Ketika buku terbit, Agan harus punya target yang lebih besar lagi (bukunya dibaca 10,000 orang?), dalam konteks ini, Agan kembali menjadi belum sukses.
- Arti sukses yang tertinggi itu adalah ketika selama hidup Agan bisa memiliki a Balanced Life, dan bisa Live to the Fullest sampai akhir hayat <- Tidak hanya sukses untuk diri sendiri, tapi juga bermanfaat untuk banyak orang. Dan, dikenang karena kontribusi-kontribusi yang Agan telah berikan untuk banyak orang di dunia ini.

Saya menjawab "Belum" ketika ditanya “Apakah Anda sudah sukses?”, karena menurut saya, masih banyak yang saya targetkan saat ini yang belum saya capai. Saya memang ‘sukses’ lulus kuliah S2, saya ‘sukses’ menjadi GM Oakley termuda di seluruh dunia ketika umur 26 tahun, saya ‘sukses’ merilis 3 buku: “Young On Top”, “TOP Words”, dan "Hidupkan Suksesmu", saya ‘sukses’ memiliki radio show sendiri di Kis 95.1fm setiap Rabu 19.00 – 20.00, dan saya ‘sukses’ melahirkan 2 perusahaan: PT Jakarta International Management (JIM) dan Rolling Stone Café Jakarta, TAPI…

Saya belum suksesnya juga banyak. Saya ‘belum sukses’ membuat ketiga buku saya dibaca oleh 1,000,000 orang, saya ‘belum sukses’ membuat radio show saya didengar oleh puluhan ribuan orang setiap on air, saya ‘belum sukses’ mengangkat Young On Top menjadi acara TV, saya ‘belum sukses’ membuat PT JIM menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, saya ‘belum sukses’ mengembangkan Rolling Stone Café ke kota-kota lain di Indonesia, dan seterusnya...

Ilustrasi yang saya tulis di sini semoga menjelaskan pesan saya:
- Arti sukses itu jangan hanya satu. Jangan hanya bilang “Saya sukses kalau jadi CEO.” Agan harus bilang, “Saya sukses kalau jadi CEO, kalau saya jadi suami/istri yang baik, kalau saya bisa membuat yayasan, kalau saya bisa menginspirasi 1,000,000 orang, kalau saya punya rumah besar, kalau saya punya mobil bagus, kalau saya,…dsb dsb.”
- Dan, arti sukses Agan harus berkembang dari waktu ke waktu. Sudah berhasil jadi CEO, arti sukses Agan untuk hal ini harus berkembang menjadi, “Saya sukses kalau jadi CEO terbaik di Indonesia,... dst dst."

Memang saya belum sukses, tapi di mata saya, hidup ini indah karena saya setiap hari sudah sadar dan selalu berusaha untuk memiliki Balanced Life, dan untuk Live to the Fullest.
Saya berharap, setelah membaca tulisan “Hidup Ini SUSAH” part #1, #2, #3 dan “Hidup Ini INDAH” part #1, Agan sudah semakin ‘terbuka matanya’; bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Di kehidupan kita sehari-hari, kita selalu dihadapkan oleh banyak pilihan. Mulai dari ketika bangun pagi, kita sudah ‘disuruh’ milih: bangun, mandi, dan mulai beraktifitas, atau malas-malasan di tempat tidur?

Di setiap pilihan yang kita ambil, selalu ada konsekuensinya. Kalau kita rajin, menghormati orang lain, memiliki integritas yang tinggi, dan segala hal yang sifatnya positif, biasanya hasilnya pun akan positif. Kalau kita seringkali tanpa disadari, ‘memilih’ untuk melakukan hal-hal yang negatif seperti misalnya, selalu menganggap diri kita yang paling bener (ngga mau dengar saran orang lain), ngga ramah dengan pelayan pembantu di rumah, dengan satpam di kampus/kantor, maupun dengan pelayan di restoran,… kemungkinan yang akan kita alami adalah hal-hal yang negatif pula.

Koq bisa? Kalau menurut buku “The Secret” karangan Rhonda Byrne, itu namanya ‘Law of Attraction’, sebuah teori yang pada intinya mengatakan bahwa segala hal-hal positif akan ‘menarik’ hal-hal positif, dan hal-hal negatif akan ‘menarik’ hal-hal negatif. Jadi kalau pemikiran kita positif, kita akan mengalami hal-hal positif di dalam hidup kita, begitu juga sebaliknya.

Tapi di sini, saya ngga akan ngomongin teori belaka. Memang masih nyambung dengan teori itu, tapi menurut saya, tindakan itu penting. Terkadang kita sudah tahu bahwa berpikir positif itu penting. Coba, siapa yang sudah tahu bahwa berpikir positif itu baik? Saya yakin semua yang lagi baca ini juga sudah tahu. Tapi, apakah ini sudah selalu Agan lakukan? Pasti jawabannya, “Tidak selalu.” Nah, pertanyaannya, “Koq udah tau berpikir positif itu baik, tapi ngga selalu dilakukan?”

Jadi, selain hanya tahu, next step yang penting adalah tindakannya! Percuma kalau cuma tahu aja, tapi ngga dilakuin. Ini step yang paling sering ‘dilupakan’. Semua mau sukses, tapi males atau takut ngelakuinnya, takut gagal.

Agan tahu kan, bahwa semakin banyak hal yang Agan lakukan, akan semakin besar juga peluang Agan untuk sukses? Saya ngga bilang bahwa semua yang Agan lakukan pasti berhasil loh! Berikut twit-twit saya ttg hal ini:

@billyboen: Nyoba hal2 baru bisa gagal bisa sukses. Ngga nyoba sama sekali, pasti gagal dan pasti ngga sukses <- pilih mana? #YOT

@BillyBoen: SMUA org PASTI grogi pas prtama kali. WINNER braniin dirinya utk coba; LOSER milih ga nyoba (kalah sama rasa takut) #YOT

@BillyBoen: WINNER slalu mikir 'apa lg yg bs sy lakuin'. LOSER slalu iri dgn pncapaian org lain tp males & ga brani ngapa2in #YOT

@BillyBoen: Org bs jd KREATIF krn ga gampang puas/kritis (bkn ga brsyukur), pnya wawasan luas & brani nyoba hal2 baru #YOT

@BillyBoen: Org yg NGGA BERANI nyoba hal2 baru (skecil apapun), sbaiknya JANGAN prnah bermimpi utk sukses #YOT

@BillyBoen: Hidup cm 1x & terlalu indah utk kita sia2kan. Org yg cm brani nglakuin 'itu2 aja' ya hidupnya cm akan 'gitu2 aja' #YOT

Twit-twit saya ini bukan sekedar teori belaka, karena saya selalu berusaha untuk benar-benar mempraktekannya di dalam hidup saya. Dengan segala kerendahan hati, kemarin saya juga share di twitter beberapa hal yang saya lakukan, dengan harapan, ke-nekad-an saya bisa menginspirasi Agan semua:

- Saya ngga pernah nulis blog/artikel sama sekali. Saya nekad nulis buku “Young On Top”

- Saya ngga pernah kursus jadi pembicara. Saya nekad mengadakan “Young On Top Campus Roadshow”, di mana saya bicara dari kampus ke kampus, dihadapan 100 – 900 mahasiswa

- Saya ngga pernah jadi penyiar/kursus jadi penyiar. Saya nekad membuat program radio mingguan “Young On Top on Radio” di Kis fm

- Saya ngga pernah terjun ke dunia modeling. Saya nekad buat modeling agency @JIMmodels, yang dalam 3 tahun menjadi #1 modeling agency di Indonesia

Kalau kegagalan, ribuan… ngga akan bisa saya tuliskan satu per satu. Jangan berpikir kegagalan hanya yang besar-besar, yang kecil-kecil di kehidupan kita sehari-hari kalau gagal ya dianggap kegagalan. Jadi, itulah sebabnya saya bilang kegagalan saya ada ribuan. Yang besar-besar juga pernah saya alami, beberapa unit usaha saya harus tutup karena rugi…

Tapi, kegagalan-kegagalan yang saya alami, tidak membuat saya takut untuk terus mencoba. Seperti twit saya di atas, “Hidup cuma 1x & terlalu indah untuk kita sia2kan. Org yang cuma berani ngelakuin ‘itu2 aja’ ya hidupnya cuma akan ‘gitu2 aja’.
Di 5 tulisan sebelumnya, saya telah mencoba membuka pandangan Agan sekalian,… dari sudut pandang susahnya hidup, sampai gampangnya hidup ini. Dari kita harus tahu apa yang mau kita capai, hingga beranikan diri untuk mencoba hal-hal baru & menantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari apa yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Sekarang, saatnya saya untuk sharing 2 hal yang telah dilakukan oleh mereka yang telah sukses. Dan kedua hal inilah yang membuat hidup mereka jauh lebih indah jika dibandingkan dengan kebanyakan orang. Apa itu?

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, bahwa arti sukses itu beragam. Di dalam karir misalnya, seseorang yang menjabat ‘hanya’ sebagai seorang Manager, tidak bisa dibilang belum sukses karena bagaimanapun juga, hanya si orang itulah yang berhak menilai dirinya sudah sukses atau belum; bukan orang lain!

Nah, terlepas dari ‘sudah sukses’ atau ‘belum sukses’nya seseorang, dia akan merasakan bahwa #HidupIniINDAH apabila dia sudah MAMPU untuk bersyukur! Ya, saya jugalah orang yang selalu mengkampanyekan motto hidup agar Agan jangan mudah berpuas diri! Dan, memang sudah banyak yang bertanya, “Loh Mas, katanya jangan gampang puas? Tapi koq sekarang suruh bersyukur? Bukankah ngga gampang puas itu sama dengan ngga bersyukur?”

Ngga gampang puas BEDA dengan ngga bersyukur. Dalam pelaksanaan dan pencapaian sesuatu, kita harus ngga gampang puas; kita harus selalu terus berusaha untuk berbuat lebih baik. Tapi… kita ngga akan pernah bahagia kalau kita ngga mampu untuk bersyukur dengan apapun yang kita miliki, atau atas pencapaian yang kita dapatkan.

Contohnya, sekarang ini saya belum puas dengan kehidupan yang saya jalani sekarang ini. Saya masih ingin terus bisa berkarya, masih ingin terus bisa berkontribusi secara nyata dan lebih besar lagi bagi kaum muda Indonesia. Saya belum puas dengan menulis 3 buku, memproduseri dan menghost “Young On Top on Radio”, berkeliling kampus, memberikan seminar, dan membuat serta mementori 120+ Young On Top Campus Ambassador. Tapi,…

Saya bersyukur bahwa buku-buku saya dapat diterima dengan baik di masyarakat. Saya juga bersyukur bahwa “Young On Top on Radio” telah berjalan hampir 2 tahun di mana saya bisa bertemu dan berkenalan serta berteman dengan para narasumber yang semuanya adalah orang-orang TOP di Indonesia. Saya juga bersyukur telah dapat sharing pemikiran-pemikiran saya lewat berbagai kesempatan di kampus, seminar, dan lewat tulisan-tulisan saya di www.youngontop.com, www.kickandy.com, dan di kaskus!

Jelas ya? Jadi beda antara jangan gampang puas dan ngga bersyukur. Intinya, kita bisa untuk ngga berpuas dengan pencapaian kita, dan pada saat yang bersamaan, kita bersyukur dengan pencapaian itu tadi.

Hal kedua yang saya akan share di sini adalah… #HidupIniINDAH ketika kita bisa berbagi dengan orang lain. Sejak buku pertama saya, “Young On Top” diluncurkan April 2009 lalu, passion saya bertambah satu: Berbagi. Dan, my purpose of life juga berubah. Saya ingin lebih banyak lagi berbagi dan berguna untuk orang lain. Saya tidak pernah menyesali target hidup yang saya miliki dari kecil, yaitu: sukses di karir. Inilah yang menjadikan saya sebagai GM Oakley termuda di dunia, ketika berumur 26 tahun, dan menjabat sebagai top eksekutif di MRA Group sebelum akhirnya saya memimpin beberapa perusahaan milik sendiri.

Balik lagi ke berbagi, semakin saya perhatikan, semakin mantap saya berpendapat bahwa “Orang yang sukses adalah orang yang mau dan sudah mampu untuk berbagi”. Ingat, bahwa kebanyakan orang salah kaprah dengan kata berbagi. Mereka berpikir, berbagi itu hanya sebatas uang. SALAH! Berbagi itu bisa pemikiran (dengan menulis), sudut pandang (memberikan ide), kemampuan, waktu, tenaga, dan lain-lain!

Oprah Winfrey adalah salah satu wanita terkaya di dunia yang memiliki Angel’s Network sebagai wadah yang dia buat untuk anak-anak miskin di Afrika untuk bisa sekolah. Bill & Melinda Gates Foundation adalah yayasan terbesar sepanjang masa, yang giat untuk memberikan dana penelitian untuk berbagai penyakit.

Iwan Setyawan, seorang anak angkot yang akhirnya berhasil menjadi seorang Direktur di Nielsen Research New York,… meninggalkan karirnya itu dan sekarang menjadi pembicara, selain sebagai penulis buku Best Seller yang berjudul “9 Summers 10 Autumns”. Dia berbagi pengalaman, pemikiran, waktu, hingga tenaganya di chapter kehidupannya yang sekarang.

Saya bersyukur bahwa saya memiliki banyak teman-teman yang percaya bahwa mereka hidup BUKAN untuk dirinya sendiri. Mereka perduli dengan banyak orang… Rene Suhardono, Andy F. Noya, Ricky Setiawan, Ahmad Fuadi, Ligwina Hananto, dan masih banyak lagi yang ngga mungkin saya sebutkan satu per satu.

Saya juga bersyukur bahwa saya sadar akan pentingnya berbagi untuk sesama, dan ngga akan pernah merasa puas atas hal-hal yang saya kerjakan. Yes, saya masih akan terusssss berusaha semaksimal mungkin untuk berbagi untuk kaum muda Indonesia!

Sekian tulisan saya tentang kehidupan dalam rangkaian #HidupIniSUSAH dan #HidupIniINDAH, semoga bermanfaat ya.

See you ON TOP!

Hidup Ini Susah



Hidup Ini Susah
Oleh : Billy Boen

Saya beruntung bisa berteman dengan orang-orang hebat di negeri ini. Sebut saja Prof. Dr. Firmanzah dan Andy F. Noya.

Untuk yang ngga tau siapa Fiz (panggilan akrabnya), dia adalah Dekan Fakultas Ekonomi UI termuda sepanjang sejarah UI. Jabatan strategis ini berhasil dia dapatkan ketika umurnya kala itu baru 33 tahun! Dan, dia adalah Profesor termuda sepanjang sejarah Bangsa Indonesia, karena dia mendapatkan gelar tersebut ketika umurnya baru 35!

Andy F. Noya, kalau ngga tau siapa dia, 'ke laut aja' deh ya? Description: http://static.kaskus.us/images/smilies/sumbangan/15.gifDia adalah jurnalis berintegritas tinggi, yang bernah berkarir di Grup Tempo, kemudian memegang pucuk pimpinan Media Group. Hingga akhirnya dia 'pensiun' dan menjadi Host "Kick Andy", yang membuat dirinya menjadi salah satu orang berpengaruh di negeri ini.

Tapi, apa hubungannya judul tulisan ini "Hidup Ini SUSAH" dengan kedua orang ini?

Ketika saya bertemu untuk kesekian kalinya dengan Fiz, kami berdiskusi banyak. Tapi topik yang paling hangat ya ngga jauh-jauh tentang ekonomi dan politik. Kapan lagi bisa dapetin pemikiran orang hebat tentang kedua hal tersebut? Saya sangat awam di kedua bidang tersebut...

Fiz cerita ke saya bahwa korupsi di negeri ini sudah luar biasa 'sistematis'. Yang junior diajarkan oleh yang senior, sehingga akan terus-terusan ada. Sulit dibasmi. Kesimpulan kita berdua, kalau suatu saat satu generasi menolak korupsi, barulah generasi-generasi berikutnya akan bersih.

Dia juga berpesan ke saya, "Bill, mending kamu tetap jadi pengusaha aja. Jadi pengusaha itu mulia loh. Secara kongkrit membantu perekonomian negara ini. Ngebantu, bukan hanya kepada para karyawanmu, tapi juga kepada keluarganya."

Minggu lalu saya ketemu dia lagi, dan dia bilang, "Kalau orang yang berani ngadepin mati, itu bukan orang hebat. Orang hebat itu adalah orang yang berani ngadepin kehidupan ini. Hidup itu SULIT."

Setiap minggu, saya ketemu dengan Mas Andy (panggilan saya ke Andy F. Noya) di Rolling Stone Cafe sebanyak 1-2x. Biasanya sebelum rapat koordinasi Rolling Stone Cafe dengan majalah Rolling Stone Indonesia berlangsung, kami sering berbincang tentang politik.

Saya selalu bertanya ke Mas Andy tentang apa yang telah terjadi di negeri ini. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan partai A, si koruptor buronan B, menteri yang dikambinghitamkan, dan sebagainya. Seru karena saya selalu diceritain 'behind the story'nya. A privilledge bisa menjadi mitra usahanya Mas Andy.

Nah, dari ratusan cerita yang pernah disampaikan ke saya, bisa dirangkum menjadi satu... Mas Andy selalu bilang "Bill, kita ini hidup di negeri DONGENG." Ini istilahnya Mas Andy atas kemarutan yang terjadi di negeri ini.

Lalu, kalau seorang Prof. Dr. dan seorang Host acara paling inspiratif di negeri ini 'ngga punya' hope terhadap masa depan bangsa ini... menurut Agan gimana?

Menurut saya, keadaan sekarang memang adalah investasi 'negatif' yang telah dilakukan berabad-abad. Untuk ngerubahnya ngga gampang, tapi BISA kalau kita generasi muda Indonesia berniat dan benar-benar mau melakukannya.

Kesimpulan tulisan saya ini: Hidup ini SUSAH!
Meskipun seringkali saya diperkenalkan diberbagai kesempatan sebagai “Motivator Muda”, disetiap kesempatan yang saya dapatkankan itu pulalah saya selalu berusaha untuk meluruskan 'profesi' itu.

Yang selalu saya bilang, “Saya BUKAN motivator. Kenapa? Karena saya ngga akan pernah bilang bahwa Agan pasti sukses! Saya juga ngga pernah dan ngga akan pernah berusaha untuk memotivasi siapapun. Saya hanya sharing apa yang saya tau. Semoga apa yang saya share bisa menjadi inspirasi.”

Kenapa saya bilang begitu? Karena menurut saya: “Yang bisa didapatkan dari mana aja itu adalah inspirasi, sementara motivasi, sesungguhnya hanya datang dari dalam diri sendiri.” <- BUKAN dari orang lain.

Jadi, Kaskuser, tolong diingat ya,… saya BUKAN motivator. Nah, di tulisan saya “Hidup Ini SUSAH! (part 2)” ini, saya akan menguatkan apa yang saya sampaikan, bahwa saya memang bukan seorang motivator. Begini…

Pada kenyataannya, semua orang mau sukses. Tapi, kita semua juga tahu bahwa yang sukses hanya sedikit. Selebihnya, belum atau bahkan ngga bisa mencapai sukses (apapun definisi sukses menurutnya).

Coba saya tanya. Berapa banyak kisah yang Agan tahu, tentang orang yang sudah berusaha semaksimal mungkin (menurutnya), dan terus-terusan gagal? Bandingkan, berapa banyak kisah yang Agan tahu, tentang orang yang berhasil mencapai kesuksesan. Mungkin perbandingannya, 1000 kisah gagal : 1 kisah sukses?

Kalau perbandingannya demikian, berarti hanya ada 1 orang sukses di antara 1,000 orang yang gagal. Dan gagal itu identik dengan ‘hidup susah’. Jelasss, orang yang gagal lah yang akan bilang “Hidup ini susah.”

Biasanya, kisah inspiratif yang ‘ngetop’ adalah kisah yang dialami oleh orang miskin yang mampu membalikkan nasibnya. Dia mampu menjadi orang kaya. Kalau bicara kisah seperti ini, saya rasa rasionya bukan lagi 1,000 : 1, tapi 100,000 : 1. Dengan kata lain, dari 100,000 orang miskin, hanya 'akan ada' 1 orang kaya. Ini hanya rasio tebakan saya belaka, dan hanya sebuah ilustrasi sehingga mudah dicerna; ngga perlu diperdebatkan ya.

Inti yang saya mau sampaikan di sini adalah, bahwa untuk bisa meraih sebuah kesuksesan itu ngga gampang. Apalagi untuk bisa sukses di beberapa bidang.

Untuk bisa sukses, jangan pernah berharap pada keberuntungan. Jangan juga bilang bahwa hidup Agan 'mengalir' saja. Ingat, mengalir itu layaknya air,... hanya akan ke tempat yang lebih rendah. Siap untuk nanti diakhir hidup, Agan akan lebih 'rendah' daripada ketika Agan dilahirkan di dunia ini?

Saya belum pernah bertemu dengan Tuhan, tapi saya yakin bahwa Tuhan itu Maha Baik. Untuk Agan yang mencari alasan untuk ngga sukses, untuk malas,… saya mau kasih ilustrasi dengan angka 0 sebagai kegagalan, dan angka 10 sebagai kesuksesan:

1. Si A adalah orang yang merasa bahwa setiap orang sudah ada takdirnya, dan berpendapat bahwa apapun yang dia lakukan, hasilnya pasti sesuai dengan kehendak Tuhan, jadi dia membiarkan hidupnya 'mengalir' saja. Dia jadi malas, ngga berusaha keras. Karena kemalasannya, posisi dia di angka 1. Karena Tuhan Maha Baik, si A diberikan pertolongan 3 angka. Di akhir hidupnya, si A bernilai 4.

2. Si B adalah orang yang rajin. Dia berpendapat bahwa terlepas dari Tuhan itu Maha Baik, dia harus berusaha di dalam hidup ini. Posisi dia di angka 5. Karena selain Tuhan Maha Baik, Dia juga Maha Adil, jadi si B diberikan pertolongan 3 angka. Di akhir hidupnya, si B bernilai 8.

Yang saya sampaikan ini hanyalah sebuah ilustrasi yang saya harap bisa membuka pemikiran Agan-Agan yang malas dan menggunakan Tuhan Maha Baik dan nasib sebagai alasan.

penyebab banyaknya orang yang belum atau ngga sukses memang beragam. Namun…
Ada satu hal yang menurut saya harus saya bahas di sini. Kenapa? Karena hal yang akan saya coba angkat disini memegang peranan cukup penting ketika kita ngomongin soal meraih kesuksesan. Apakah itu? KESEMPATAN.

Seringkali di workshop, seminar, maupun di twitter @billyboen, saya ditanya, “Apakah Gan Billy setuju bahwa kesempatan itu hanya datang sekali?”
Sir Richard Branson, Founder dan CEO Virgin Group yang memiliki lebih dari 300 anak perusahaan di bawah naungan bendera Virgin, bilang kira-kira seperti ini, “Kesempatan itu seperti halnya bus. Datang berkali-kali.” Saya yakin, banyak orang yang setuju dengan ilustrasi dari Sir Richard Branson ini.

Sir Richard Branson ini adalah salah satu idola saya. Sangat sukses, nekad, punya insting bisnis yang kuat, ngga gampang nyerah, pintar, enjoy life (punya pulau, pesawat pribadi, naik balon udara, sky diving), dan senang untuk berbagi. Namun, untuk ilustrasi yang dia sampaikan ini, saya agak berbeda pendapat.

Menurut saya, kesempatan itu BUKAN datang. Jadi kalau orang lain pada bilang, “Kita harus persiapkan diri kita, jadi ketika kesempatan itu datang, kita siap untuk mengambilnya”, saya kurang sependapat. Kenapa?

Karena menurut saya, kesempatan itu BUKAN datang, tapi harus DICIPTAKAN. Gimana caranya? Banyak. Tapi yang paling mudah adalah untuk memiliki banyak teman. Loh, apa hubungannya? Jelas ada! Kalau Agan sudah melakukan apa yang saya tulis di “Jangan Pernah Sungkan” yang saya posting di www.billyboen.com/jangan-pernah-sungkan, dengan kata lain, Agan telah memulai proses ‘Penciptaan Kesempatan’. Masih bingung?

Kalau Agan memiliki pertemanan yang tulus dengan 100 orang. Terus berhubungan dengan baik, meski ngga ada kebutuhan apapun. Sekali-kali telpon mereka, menanyakan “Apa kabar”, tanpa meminta sesuatu apapun. Nah, ketika salah satu dari mereka punya suatu proyek dan itu sesuai dengan keahlian Agan, maka jangan kaget kalau Agan ditelpon, dan diajak untuk bekerja sama.

Dalam ilustrasi ini, ketika Agan mencoba berteman, dan menjaga hubungan baik dengan banyak orang, Agan sedang menciptakan kesempatan. Mungkin Agan ada yang ngga setuju dengan saya, “Menurut saya, ketika teman menelpon kita untuk ngajak kerjasama itulah yang disebut kesempatan.” Kalau saya, itu adalah keberuntungan. Agan beruntung menjadi orang yang ditelpon oleh teman yang mendapatkan proyek itu!

Dengan ilustrasi yang sama, coba bayangkan kalau Agan ngga merasa punya teman banyak itu penting. Agan lebih senang memiliki 5 orang teman. Ke mana-mana berlimaaaaa aja. Kenalan sama orang lain, cuma sebatas basa basi. Tukeran kartu nama, abis itu ngga inget tuh kartu nama ditaro di mana. Sebelum dicatat nomor dan emailnya di hp. Pertanyaan saya, apakah orang yang di ilustrasi pertama akan menelpon Agan, ketika dia mendapatkan proyek? Tentu tidak! Kenapa? Ya mungkin dia juga lupa pernah ketemu dan kenal sama Agan,… karena Agan ngga pernah menjaga hubungan. Jangan heran kalau dia menelpon orang lain.

Kalau sudah begini, jangan salahkan kesempatan. Jangan bilang, “Saya belum sukses karena kesempatan belum datang.” Yang belum datang itu keberuntungan. Gimana keberuntungan mau datang, Agan ngga berusaha untuk menciptakan kesempatan itu di awalnya…

Lalu, kalau sudah menciptakan kesempatan dengan memiliki 1,000 teman. Apakah pasti akan sukses? Ngga juga! Bisa aja teman yang mendapatkan proyek itu tetap tidak menelpon Agan, tapi malah nelpon orang lain. Berarti Agan belum beruntung. Atau, mungkin karena orang lain itu lebih hebat lagi dalam memaintain hubungannya...

Nah, kalau sudah ngomongin keberuntungan,… prinsip saya satu: “Ngapain pusingin factor X di luar sana. Faktor X itu di luar kendali kita. Mending fokus ke apa yang mampu kita lakukan (milih kerjaan sesuai passion, dream BIG, miliki great attitude, dst dst).”

Jadi, di akhir tulisan saya part 3 ini, kesimpulannya tetap sama, “Hidup Ini SUSAH.” Tapi apakah benar demikian? Apakah saya pun berpendapat demikian?

Tunggu tulisan saya terakhir tentang ‘kehidupan’, di part#4; karena menurut saya dan menurut sebagaian orang, “Hidup Ini INDAH”. Koq bisa?

Bedanya Hidup Di Kota Dengan Di Desa


Bedanya Hidup Di Kota Dengan Di Desa
 oleh : Fathurrohman Al Jufri
Kali ini saya akan membahas tentang perbedaan yang terjadi antara hidup di kota dengan di desa. Mungkin sebagian orang pernah mengalami perbedaan ini, apalagi bagi mereka yang hijrah dari desa ke kota. Nanti saya akan membahas sebab – sebab kenapa orang yang tinggal di desa sangat ingin pergi dan di kota.
Kita mulai dengan kehidupan di desa, kehidupan di desa pada dasarnya hampir sama dengan kehidupan di kota, tetapi yang membedakan adalah situasi alam, di desa masih sangat asri, banyak kebun dan sawah, hampir tidak ada bangunan gedung – gedung pencakar langit seperti di kota, dan suasana di sini pun sangat tenang, jauh dari kebisingan dan kesibukan.
Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani / nelayan, mereka menggarap sawah dan kebun, memanfaatkan semua hasil alam sekitar. Sebenarnya masyarakat desa sudah senang hidup di desa yang jauh dari kebisingan, tetapi mereka juga membutuhkan sarana yang memadai untuk memudahkan mereka, seperti jalan aspal dan jembatan, karena pada umumnya jalan di desa masih berupa tanah yang di Tanami batu – batu oleh warga, di sinilah di butuhkan peran pemerintah sekitar dan pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan masyarakat desa, agar pembangunan nasional merata.
Berbicara soal Pembangunan nasional saya teringat pada kampung halaman ayah saya yaitu di Pulau Kelapa, Kepulauan seribu. Penduduk di pulau ini sangat padat, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai Nelayan. Di sana masih belum ada listrik, listik disana berasal dari mesin diesel yang besar, dan mesin itu pun hanya beroprasi pada pukul 17.00 sampai pukul 06.30, jadi di siang hari mesin itu tidak beroprasi, dengan kata lain listrik tidak menyala di siang hari. Tetapi jika mesin diesel mengalami gangguan / rusak, maka siang dan malam listrik tidak menyala. Bayangkan betapa sengsaranya? Sangat tidak nyaman, karena saya pernah mengalami hal ini.
Berbeda dengan pulau tetangganya, yaitu Pulau Harapan. Listrik di pulau ini juga berasal dari mesin diesel, tetapi yang membedakan adalah lisrtik di sana nyala terus alias non stop. Mengapa bisa terjadi? Jawabannya cukup sederhana, yaitu karena jumlah penduduk di Pulau harapan sedikit, hanya sekitar 30% dari jumlah penduduk di Pulau Kelapa.
Pemerintah terus mengupayakan pemerataan pembangunan nasional untuk Pulau – Pulau yang berada di sebrang Utara Jakarta ini. Tetapi pembangunan ini kerap kali mendapatkan hambatan dari orang – orang yang tidak bertanggung jawab, contohnya listrik di Pulau Untung Jawa, P. tidung, dan P. Panjang, di pulau – pulau ini sudah di aliri listrik dengan bantuan Kabel listrik yang di tanam di dasar laut, tetapi masalah sering saja terjadi, yaitu ada saja yang mengambil kabel listrik tersebut, sehingga listik mengalami konsleting.
Para pencuri ini mengambil tembaga untuk di jual kembali, mereka hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa berfikir dampak yang akan terjadi karena perbuatan mereka. Selain merugikan warga, mereka pun menghambat laju proses Pembangunan Nasional.
Itulah yang saya ketahui tentang pembangunan nasional. Dan sekarang saya akan membahas tentang sikap dan perilaku masyarakat desa.
Pada umumnya masyarakat desa adalah masyarakat yang berisikan orang – orang yang sopan, dan mereka masih menghormati norma – norma yang berlaku di masyarakat. Kebanyakan dari mereka hidup harmonis dengan tetangganya, mereka saling membantu dalam segala hal. Misalnya dalam hal kebersihan lingkungan, mereka tidak segan – segan untuk kerja bakti, mereka melakukannya dengan gotong royong. Ketika para Suami sedang kerja bakti, maka para Istri menyiapkan makanan untuk para Suami yang sedang bekerja bakti. Setelah kerja bakti selesai mereka berkumpul di sebuah sanggar atau saung untuk beristirahat dan duduk bersama dengan warga lainnya untuk menyantap hidangan yang telah di buat oleh istri meraka. Begitu indahnya bukan?
Selain kerja bakti dalam masalah kebersihan lingkungan, mereka pun gotong royong dalam hal keamanan, dengan cara melakukan Ronda bersama. masing – masing dari mereka mendapat jatah ronda, dan mereka pun dengan senang hati melakukan hal itu bersama – sama dengan niat menjaga keamanan kampung mereka pada malam hari.
Dalam masalah religius juga mereka sangat kuat, jika mereka beragama Islam, maka mereka semua sangat rajin sholat berjamaah dan mengaji bersama. apalagi pada saat bulan suci ramadhan, pada malam hari setelah sholat tarawih, mereka pasti langsung melanjutkannya dengan tadarus bersama.
Begitu indahnya hidup di desa, tetapi mengapa tidak sedikit dari mereka pergi mengadu nasib ke kota – kota besar? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena masalah ekonomi, dengan tujuan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, mereka mengadu nasibnya ke kota.
Itulah gambaran kehidupan di desa, bagaimana dengan kehidupan di kota? Ketika anda mendengar tentang masyarakat kota, pasti yang ada di benak anda adalah kemewahan, elegan, dan serba wah. Tetapi semua masyarakat kota seperti itu, ada juga diantara mereka yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Perbedaan hidup di kota dengan di desa adalah, sarana dan prasarana di kota lebih lengkap dan memadai, sehingga warga kota lebih mudah untung mendapatkan fasilitas yang diinginkan. Tetapi di kota kehidupannya jauh lebih sibuk dan suasananya bising, tidak setenang di desa.
Selain itu masyarakat kota juga kurang peka terhadap sekitar, mereka lebih mementingkan diri sendiri, kejadian seperti ini bisa anda lihat di komple perumahan – perumahan mewah, mereka hidup seperti tidak memiliki tetangga. Kegiatan mereka hanyalah bekerja, pulang dari kerja langsung masuk kerumah, dan apabila pada saat hari libur tidak jarang diantara mereka menghabiskan waktunya di dalam rumah untuk istirahat, dan mereka pun sangat jarang bersosialisasi dengan tetangganya.
Dan apabila ada kegiatan gotong royong, mereka biasanya hanya ingin membayar uang kebersihan, tanpa mau turun ke lapangan untuk kerja bakti. Dan mereka tidak ingin mendapat giliran ronda, mereka hanya ingin membayar upah ronda kepada petugas keamanan. Inilah perbedaannya dengan warga desa. Warga yang seperti ini terkesan arogan. Tetapi tidak semua warga kota seperti itu, ada beberapa di antara mereka yang masih menjaga keakraban dengan tetangganya.
Lalu bagaimana dengan sisi religiusnya? Seperti halnya manusia, mereka ada yang taat dan juga ada yang tidak, tetapi perbedaan ketaatan religius masyarakat kota pada umumnya adalah pada kegiatan pengajian, jika masyarakat desa sangat sering dan rajin dating ke pengajian, maka beberapa masyarakat kota sangat jarang yang dating ke pengajian, jika pemuda di desa sangat rajin dan suka meluangkan waktunya untuk tadarusan bersama, maka beberapa pemuda di kota sangat jarang, mereka lebih memilih menghabiskan waktu di café, mall, dan tempat hiburan lainnya. Jika pemuda di desa lebih sering membantu orang tua, maka pemuda di kota lebih sering menyusahkan orangtua dan lebih suka menghamburkan uang orang tua. Tetapi itu semua kepada individu masing – masing. Jika ia adalah orang yang pada dasarnya taat beragama, maka tak perduli di kota maupun desa, ia tetap rajin dalam hal ibadah dan juga tidak akan menyusahkan orang tua.
Itulah perbedaan gaya hidup masyarakat kota dengan masyarakat desa. Jika ada kesalahan kata dan masih banyak kekurangan dalam tulisan saya, mohon maaf. Sekian dari saya dan terimakasih.

25 Des 2011

BAB 10 PRASANGKA, DISKRIMINASI, DAN ENTOSENTRISME


1. PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap  yang negatif  terhadap  sesuatu,  disebut  prasangka. Tidak sedikit  orang-orang yang  mudah  berprasangka, namun  banyak juga orang-orang yang lebih sukar  untuk berprasangka. Mengapa terjadi perbedaan  cukup  menyolok? Tampaknya kepribadian dan intelekgensia, juga faktor lingkungan cukup  berkaitan  dengan  munculnya prasangka.
Dalam  kondisi   persaingan untuk  mencapai  akumulasi materiil   tertentu, atau  untuk  meraih  status  sosial   bagi  suatu  individu   atau  kelompok   sosial tertentu,  pada suatu lingkungan/wilayah di mana norma-norma dan tata hukum dalam kondisi goyah, dapat merangsang  munculnya  prasangka dan diskriminasi dapat  dibedakan dengan jelas.  Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjuk kepada  suatu  tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap berprasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tidak dapat dipisahkan.
SEBAB –SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Berlatar  belakang sejarah.
Orang-orang kuli putih di Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang  Negro, berlatar  belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih sebagai tuan dan orang-orang Negro berstatus sebagai budak.
-          Dilatarbelakangi  oleh perkembangan  sosio - kultural  dan situasional.
Suatu prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pimpinan  Perusahaan  terhadap  karyawannya.
-          Bersumber dari faktor  kepribadian.
Keadaan frustrasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif. Para ahli beranggapan  bahwa prasangka lebih dominan disebabkan  tipe­ tiepe  kepribadian  orang-orang   tertentu.
-          Berlatar  belakang  dari perbedaan  keyakinan,  kepercayaan  dan agama.
Bisa ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi.  Prasangka  yang  berakar  dari  hal-hal  tersebut  di  atas  dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal. Beberapa diantaranya : Konflik Irlandia Utara-Irlandia Selatan, Konflik antara golonganb keturunan Yunani-Turki di Cyprus dan perang Iran-Irak berakar dari latar belakang adanya prasangka agama/kepercayaan agama.
DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI / MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Perbaikan kondisi sosial ekonomi : Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial anatar si kaya dan si miskin.
-          Perluasan kesempatan belajar : Adanya  usaha-usaha pemerintah dalam  perluasan  kesempatan belajar bagi seluruh  warganegara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka   bahwa  program   pendidikan, terutama   pendidikan   tinggi hanya  dapat   dinikmati  oleh   kalangan  ma yarakat  menengah   dan kalangan  atas.
-          Sikap terbuka dan sikap lapang : Harus selalu  kita sadari  bahwa  berbagai  tantangan  yang  datang  dari luar ataupun yang datang dari dalam negeri, semuanya akan dapat merongrong keutuhan  negara dan bangsa. Kebhinekaan masyarakat berikut sejumlah nilai yang melekat, merupakan basis empuk bagi timbulnya  prasangka, diskriminasi, dan keresahan.
2. ETNOSENTRISME
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai ­ nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan tersebut.
Suku bangsa, ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka sebagai salah ssesuatu yang prima, riil, logis, sesuai dengan kodrat alam dan sebaginya. Segala yang berbeda dengan kebudayaan yang mereka miliki, dipandang  sebagai  sesuatu  yang  kurang  baik,  kurang  estetis,  bertentangan dengan kodrat alam dan sebagainya.
Hal-hal tersebut di atas dikenal sebagai ETNOSENTRISME,  yaitu suatu kecendrungan  yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakannya sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan  lain.
Etnosentrisme  nampaknya merupakan  gejala sosial  yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar. Dengan demikian etnosentrisme merupakan kecendrungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau meni1ai kelompok lain dengan tolak ukur kebudayaannya  sendiri. Sikap etnosentrisme  dalam  tingkah  laku  berkomunikasi  nampak  canggung,  tidak luwes. Akibatnya etnosentrisme  penampilan yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalah pahaman dalam berkomunikasi. Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideologi Chauvinisme pernah dianut oleh orang­ orang Jerman pada zaman Nazi Hitler. Mereka merasa dirinya superior, lebih unggul dari bangsa-bangsa lain, dan memandang bangsa-bangsa lain sebagai inferior, lebih  rendah, nista dsb.